Tengah Malam, Rabu, 17 September 2008
Tepatnya tanggal 16 September 2008 subuh, aku menghubungi lewat dunia maya seseorang yang sudah aku kenal. Jujur harus ku akui bahwa untuk menghubunginya pun aku sangat berat pada awalnya karena kenyataannya aku menghubunginya karena aku merasakan sesuatu sedang terjadi pada dirinya. Terserah orang mau bilang apa pada ku jika karena subuh-subuh aku menghubungi si pria tersebut karena kenyataannnya aku baru menyelesaikan pekerjaan ku.
Aku tidak kenal baik dengan sosok keseluruhannya tetapi karena hubungan adat istiadat lah kami menjadi sangat dekat, sangat berani bertanya sana-sini, cekakak-cekikikan. Wahhhh pokoke asyik-asyik aja-lah aku denganya. Begitupun sebaliknya. Istilah ku pada apa yang terjadi pada diri kami adalah pariban seumur hidup (istilah ku untuk pria-pria yang mempunyai MARGA sama dengannya).
Aku mengenalnya sebagai pria yang pandai membuat program-program dalam dunia maya…ya itulah salah satu pekerjaannya. Dari ceritanya selama ini aku berfikir bahwa dia seorang pria yang cuex karena meski kerja pun dia maunya memakai celana pendek doank, mempunyai sifat sedikit penutup, tetapi jiwa penolongnya ada pada ku meski belum tampak sekarang.
(jangan marah pariban hu…)
Gaya bicaranya aku senang-senang aja karena maklumlah dia masih dapat aku ajak komunikasi dengan kata, ‘gue’ dan aku anggap kata tersebut membuat diri ku lebih dekat kepadanya. Begitu juga sebaliknya. Aku yakin itu!
Tapi jeleknya dia-lah yang memberikan gelar PARBADA ke aku…arrrggghhhhh…aku sendiri tidak tau kenapa dia mengatakan demikian…biarkan sajalah…
Waktu berselang beberapa jam bagi kami untuk bercerita panjang lebar ada apa dengan dirinya saat ini. Jujur, aku sangat-sangat terhanyut atas cerita-cerita tersebut karena sangat menggeramkan emosi ku tetapi meskipun demikian aku harus berikan pendapat dan saran-saran ku. Aku sangat prihatin dengan keadaannya karena cerita tersebutlah hingga hari ini aku beranikan untuk menuliskan sebuah ‘dongeng’ di negeri ORANG BATAK dengan judul, ‘Ala ni dang adong SARJANA hu mai, hasian…’ (gara-gara sebuah gelar SARJANA-lah, sayang…)
Sempat kata-kata ku mengatakan padanya, ‘TOLOL’ dan ‘TAON’ (ya tahan aja ndiriiii) setelah dia cerita dan aku menanggapi cerita tersebut. Meskipun demikian bukan niat ku untuk berkata demikian maka sebelumnya aku meminta maaf kepadanya.
~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~
terimakasih TUHAN karena hari ini Engkau sudah ajarkan ku bagaimana mendengarkan, mengingatkan, dan memberi serta berbagi…Amin



» Recent Comments