Berawal dari cerita ungkapan hati dari beberapa orang sahabat dekat/tidak atau kasus yang menimpa mereka terbesitlah kalimat-kalimat, yang terungkai dalam kata-kata cerita sehingga terbentuklah goresan kecil hati yang terungkap.
Pertumbuhan dan perkembangan umur manusia membentuk dirinya sendiri yang kadang-kadang masih banyak jatuh dalam kungkungan jerami kenakalan. Mungkin saja mereka tidak/belum mengetahui makna keindahan yang terpancar dalam hidup ini. Kenakalan pribadi lepas pribadi yang didapatnya dari lingkungan sosial sangat berpengaruh pada kehidupan pribadinya. Kenakalan-kenakalan inilah yang banyak bentuk dan macamnya yang akhirnya menghasilkan seperti layaknya ‘kepercayaan’ dan ‘kesetiaan’.
Seringkali kata ‘kepercayaan’ dan ‘kesetiaan’ ini menjadi polemik bagi kita insan yang masih terus bergelimpangan dengan masalah, baik kehidupan dalam pekerjaan, persahabatan, hubungan antar manusia alis pacaran, perasaan, keluarga, dan lain sebagainya.
Siapa orangnya yang tak ingin menjadi orang ‘kepercayaan’ dan menjadi ‘setia’ dalam kehidupannya?
Tetapi kata-kata tersebut sering disalah artikan dalam perjalannnya. Sudah barang tentu Anda sering menemuinya khan…?
Memang tidak gampang untuk melakukan ‘kepercayaan’ dan ‘kesetiaan’ tetapi sangat gampang kata tersebut untuk kita ucapkan. Coba Anda bayangkan jika bos Anda di kantor, di tempat Anda beraktifitas telah memberikan ‘kepercayaan’ sepenuhnya mengenai keuangan perusahaan tetapi pada saat bersamaan Anda juga meninggalkannya (tidak setia.read) untuk mendapatkan hak yang lebih besar di tempat lain, padahal dan awalnya Anda sudah yakin untuk ‘setia’ dalam perusahaan ini?
Kita hancurkan ‘kepercayaan’ yang sudah ada dan tumbuh pada saat itu.
Pada suatu saat kita dihadapkan berbagai macam persoalan orang-orang disekeliling kita dan pada saat itupun kita dituntut untuk mempercayai dan dituntut untuk selalu setia dalam permasalahan mereka.
Apasih yang kita dapatkan dari seorang teman/rekan kerja/tetangga/sahabat kalau hanya harus dan manyun untuk mendengarkannya?
Apa enggak ngabisin waktu serta fikiran tuh?
(kayak orang bego aja gue…?? mang lu sapa…?? mang gue fikirin…??)
Siapa yang bilang dan tidak boleh mengatakan bahwa kita pada saat itu boleh lari dari masalah mereka?
Memang betul!! Tetapi Anda sendiri sudah melakukan tindakan kesalahan dengan meninggalkan persoalan tersebut karena Anda akan disebut ‘pecundang’, dan yang lebih parahnya Anda akan ditinggalkan oleh mereka serta Anda sendirilah yang menghapuskan makna dari kata ‘kepercayaan’ dan ‘kesetiaan’ itu sendiri!
Mereka mengungkapkan gundah gulana, meratapi nasib, memaksakan diri kepada kita untuk menjadi pendengar. Mungkin pada saat itu mereka tidak menyadari bahwa mereka sudah melakukan penuntutan waktu dan diri kita sepenuhnya tetapi apakah karena semua ini Anda ingin kehilangan ‘kepercayaan’ dan ‘kesetiaan’?
Hal inipun juga terjadi dalam kehidupan keluarga. Apakah Anda ‘percaya’ dan ‘setia’ dengan pasangan hidup Anda?
(jangan tipu diri sendiri deh? *twink* heheheh…)
Kita akan merasakan perasaan emosi jiwa pada saat kita mengetahui bahwa pasangan kita sudah menodai ‘kepercayaan’ dan sebuah ‘kesetiaan’.
Jika Anda tidak ada ‘kepercayaan’ dan ‘kesetiaan’ dengan Tuhan, yang di atas sana, maka sia-sialah apa yang selama ini Anda terima dan jalankan menurut kehendak-Nya!
‘Kepercayaan’ dan ‘Kesetiaan’ harus tetap tegak berdiri pada saat kapanpun karena dia tidak mengenal perbedaan umur, cuaca, situasi, pekerjaan, sosial, hubungan pribadi, keluarga atau lainnya. Kita harus menanamkan sebuah ‘kepercayaan’ baru kita akan merasakan sebuah arti ‘kesetiaan’.
Benarkah demikian adanya? hmmm…
‘Kepercayaan’ dan ‘kesetiaan’ adalah kata yang berbeda makna tetapi menjadi satu rangkaian kata yang sangat besar maknanya.
Prioritaskan ‘kepercayaan’ dan ‘kesetiaan’ ke dalam diri dan kehidupan Anda!?
Renungan…
Apakah kita sudah selalu ‘percaya’ dan ‘setia’ dalam segala hal?
Apakah kita selalu membuat keputusan ‘kepercayaan’ dan ‘kesetiaan’ berdasarkan perbedaan-perbedaan yang ada pada diri orang lain?
Apakah kita mau nama kita dihapus dari ‘kepercayaan’ lingkungan kita?
Apakah kita mau disebut pecundang pada saat kita tidak ‘setia’?
Semua jawaban ada di hati dan fikiran Anda!
goresan-ku (~ds/dianasihotang-ap-o6mar05))



» Recent Comments