<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Nurhayati Sirait, Korban Kekerasan Suami-Sebuah Kesaksian</title>
	<atom:link href="http://dianasihotang.com/2009/04/02/nurhayati-sirait-korban-kekerasan-suami-sebuah-kesaksian/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dianasihotang.com/2009/04/02/nurhayati-sirait-korban-kekerasan-suami-sebuah-kesaksian/</link>
	<description>kesuksesan selalu ada bagi anda</description>
	<lastBuildDate>Sat, 07 Jan 2012 09:53:01 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
	<item>
		<title>By: Poltak Simanjuntak, Medan, Sumatera Utara-Indonesia</title>
		<link>http://dianasihotang.com/2009/04/02/nurhayati-sirait-korban-kekerasan-suami-sebuah-kesaksian/comment-page-1/#comment-32</link>
		<dc:creator>Poltak Simanjuntak, Medan, Sumatera Utara-Indonesia</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Apr 2009 10:30:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://dianasihotang.com/?p=1376#comment-32</guid>
		<description>Antara Nurhayati si korban KDRT dengan Diana br. Sihotang si Pejuang Hak Perempuan…

Pada hakekatnya, seorang perempuan yang disebut istri itu seharusnya memiliki posisi yang sama dengan seorang laki-laki yang disebut suami itu.

Sebab tanpa istri, si suami akan kehilangan mahkotanya. Bayangkan jika si suami yang merasa “raja” rumah tangga itu melakukan KDRT kepada mahkotanya yaitu sang istri, yang terjadi adalah keruntuhan “kerajaan” tumah tangga.

Si Mahkota juga tidak cukup hanya pasif. Mahkota yang baik, jika dia ditempatkan di tempat yang tepat. Bukan untuk korban KDRT.

Jika ini bisa terjadi saat ini kepada Nurhayati, maka mahkota-mahkota yang lain harus membantunya. Mendukungnya. Tidak cukup hanya doa, harus rela mengatakan hentikan KDRT sekarang juga.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Antara Nurhayati si korban KDRT dengan Diana br. Sihotang si Pejuang Hak Perempuan…</p>
<p>Pada hakekatnya, seorang perempuan yang disebut istri itu seharusnya memiliki posisi yang sama dengan seorang laki-laki yang disebut suami itu.</p>
<p>Sebab tanpa istri, si suami akan kehilangan mahkotanya. Bayangkan jika si suami yang merasa “raja” rumah tangga itu melakukan KDRT kepada mahkotanya yaitu sang istri, yang terjadi adalah keruntuhan “kerajaan” tumah tangga.</p>
<p>Si Mahkota juga tidak cukup hanya pasif. Mahkota yang baik, jika dia ditempatkan di tempat yang tepat. Bukan untuk korban KDRT.</p>
<p>Jika ini bisa terjadi saat ini kepada Nurhayati, maka mahkota-mahkota yang lain harus membantunya. Mendukungnya. Tidak cukup hanya doa, harus rela mengatakan hentikan KDRT sekarang juga.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Agnes Br Pane, Bandar Lampung-Indonesia</title>
		<link>http://dianasihotang.com/2009/04/02/nurhayati-sirait-korban-kekerasan-suami-sebuah-kesaksian/comment-page-1/#comment-26</link>
		<dc:creator>Agnes Br Pane, Bandar Lampung-Indonesia</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Apr 2009 14:31:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://dianasihotang.com/?p=1376#comment-26</guid>
		<description>HORAS,

Senangnya bisa menulis diweb ini, dan kuteruskan pula sebait lagu Ito Betaria Sonata yang legendaris itu waktu aku masih SD!

..”Dulu segenggam emas kau pinang aku
dulu,bersumpah janji di depan saksi
Namun semua, hilang lah sudah ditelan dusta
Namun semua tinggal cerita,
Hati yang luka…”

Kalau mau jujur, maaf, tidak ada diantara kita yang bisa memahami, mengalami, bahkan merasakan apa yang dialami kakak Nurhayati br sirait ini.. Bagaimana dia berada dalam tekanan yang luar biasa menghadapi kekerasan fisik, yang kini membuat dia sakit secara mental..

Saya sangat berempati pada saudari kita yang malang ini, bagaimana dia bisa menuliskan kesaksian yg sebenarnya mengukir “sidangolon” itu kembali tergambar nyata dihadapan nya…

bentuk apapun kekerasan tidak menjadi jaminan untuk merubah seseorang menjadi pribadi yg lebih baik,ini merujuk perbuatan/sikap sang istri yg mungkin dirasa tidak pantas oleh suami.

Tak ada yang lebih baik daripada kepergian saudari kita itu, untuk meninggalkan suami, dan memperjuangkan kebahagiaan dia beserta anak2nya kelak..

Upaya Hukum? oh sudah tentu harus tetap berproses, untuk memberikan sebuah terapi bagi suaminya, bukan untuk menghukum, atau bahkan memuaskan “dendam” yang telah gabe mudar mungkin (cieee) tapi ini adalah sebuah pembelajaran.

Buat Perkumpulan Generasi Muda Simanjuntak yang melakukan pendampingan atas saudari kita ini, Chayo and Proficiat,ini yang saya maksudkan, (merujuk komentar saya pada paragraph #3) bahwa kita jika berhadapan pada tataran empati, harus lah ada aksi… dan akhirnya kita bisa berkata bahwa kita memahami/merasakan apa yang saudari kita rasakan… (semoga berhasil bung!)

Horas
agnes br pane</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>HORAS,</p>
<p>Senangnya bisa menulis diweb ini, dan kuteruskan pula sebait lagu Ito Betaria Sonata yang legendaris itu waktu aku masih SD!</p>
<p>..”Dulu segenggam emas kau pinang aku<br />
dulu,bersumpah janji di depan saksi<br />
Namun semua, hilang lah sudah ditelan dusta<br />
Namun semua tinggal cerita,<br />
Hati yang luka…”</p>
<p>Kalau mau jujur, maaf, tidak ada diantara kita yang bisa memahami, mengalami, bahkan merasakan apa yang dialami kakak Nurhayati br sirait ini.. Bagaimana dia berada dalam tekanan yang luar biasa menghadapi kekerasan fisik, yang kini membuat dia sakit secara mental..</p>
<p>Saya sangat berempati pada saudari kita yang malang ini, bagaimana dia bisa menuliskan kesaksian yg sebenarnya mengukir “sidangolon” itu kembali tergambar nyata dihadapan nya…</p>
<p>bentuk apapun kekerasan tidak menjadi jaminan untuk merubah seseorang menjadi pribadi yg lebih baik,ini merujuk perbuatan/sikap sang istri yg mungkin dirasa tidak pantas oleh suami.</p>
<p>Tak ada yang lebih baik daripada kepergian saudari kita itu, untuk meninggalkan suami, dan memperjuangkan kebahagiaan dia beserta anak2nya kelak..</p>
<p>Upaya Hukum? oh sudah tentu harus tetap berproses, untuk memberikan sebuah terapi bagi suaminya, bukan untuk menghukum, atau bahkan memuaskan “dendam” yang telah gabe mudar mungkin (cieee) tapi ini adalah sebuah pembelajaran.</p>
<p>Buat Perkumpulan Generasi Muda Simanjuntak yang melakukan pendampingan atas saudari kita ini, Chayo and Proficiat,ini yang saya maksudkan, (merujuk komentar saya pada paragraph #3) bahwa kita jika berhadapan pada tataran empati, harus lah ada aksi… dan akhirnya kita bisa berkata bahwa kita memahami/merasakan apa yang saudari kita rasakan… (semoga berhasil bung!)</p>
<p>Horas<br />
agnes br pane</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

