2 Hearts Forever
September 13, 2011 in bataknese, ~ds.Social Culture
Sungguh hebat media sosial facebook ini!, fikir ku kembali saat mendapatkan ide penulisan kali ini.
Bagaimana tidak?
HORAS, di hamu sude Pariban hu Simanjuntak di luat portibi on!
dan
HORAS, Facebook!
Marga Simanjuntak, khususnya Si Tolu Sada Ina (tiga marga dalam satu ibu.red) yaitu Simanjuntak Mardaup, Simanjuntak (Si)tombuk, dan Simanjuntak Hutabulu adalah salah satu Marga yang berasal dari Suku Tapanuli Utara yang merupakan satu-satunya marga yang secara langsung ber-pariban dengan Boru Hotang. Artinya tidak mengenal kata tidak, mau tidak mau, kapan pun waktunya, bagaimana pun rupa dan kekayaannya, tidak mengenal istilah tua atau muda, dan dimana pun mereka berada baik di dalam atau luar negeri maka seorang Marga Simanjuntak akan langsung memanggil Boru Hotang dengan sebutan ‘pariban’ dan demikian juga sebaliknya. Oleh karenanya maka ku sebut mereka dengan istilah unik-ku tersendiri yaitu ‘pariban sak portibi on’, dan ‘pariban seumur hidup saya’ dalam kurun waktu beberapa tahun belakangan ini.
Apa beda sebutan marga dan ‘boru’ bagi Orang Batak khususnya?
Marga adalah sebutan nama keluarga bagi setiap laki-laki Batak sedang panggilan ‘boru’ adalah sebutan nama keluarga bagi setiap perempuan Batak sehingga setiap laki-laki atau perempuan Batak akan memangku jabatan satu marga yang didapatnya secara langsung dari ayah kandungnya. Nama keluarga ini biasanya dituliskan di belakang nama seseorang. Seperti tersebut nama Gracio Sidabutar maka ayah dari Gracio memiliki Marga Sidabutar. Demikian pula dengan Diana Boru Hotang dimana ayah dari Diana memiliki Marga Sihotang.
Kata ‘Si’ dalam Marga Sihotang biasanya digunakan oleh pihak laki-laki makanya penulisan dalam Silsilah Orang Batak yang benar bagi nama Diana adalah Diana Boru Hotang. Bedakan dengan penulisan nama yang tertulis di dalam Akta Lahir seseorang yang berlaku di Indonesia!
Sungguh unik cara penulisan ini, bukan?
Apa arti istilah pariban tersebut?
Di dalam kultur Orang Batak ada istilah yang dinamakan hubungan per-pariban-an. Secara umum istilah ‘pariban’ itu sendiri adalah sepupu yang dapat dipasangkan atau dinikahkan dan secara Hukum Adat Orang Batak itu sendiri pun sangat diperbolehkan pernikahan ini. Yang artinya dapat menikah dengan keluarga sendiri yaitu bersama sepupu kandung.
Seorang Laki-laki Batak secara otomatis akan ber-pariban dengan anak perempuan dari ‘Tulang’-nya. Sebutan kata ‘Tulang’ digunakan untuk kakak atau adik laki-laki dari ibu. Demikian pula bagi Perempuan Batak akan ber-pariban langsung dengan anak anak laki-laki dari ‘Namboru’-nya. Sebutan ‘Namboru’ adalah sebutan bagi kakak atau adik perempuan dari ayah.
Demikian pula dengan Marga Simanjuntak yang sudah pasti akan memanggil sebutan ‘Tulang’ kepada seluruh Marga Sihotang sehingga mau tidak mau secara khusus istilah kata ‘pariban’ antara Marga Simanjuntak dengan Boru Hotang pun (anak perempuan dari Marga Sihotang.red) harus disebutkan di antara ke dua marga tersebut.
Semua ini bisa terjadi hanya karena pengaruh cerita adat budaya di antara ke dua marga tersebut sehingga tak heran jika keunikan hubungan per-pariban-an yang mesra di antara mereka dapat terealisasikan di dalam kata dan kalimat. Hingga saat ini pun fakta memang berkata demikian bahwa hubungan kekerabatan yang begitu dekatnya sudah secara otomatis terjadi di antara mereka baik di dalam dunia nyata atau pun di dalam dunia maya seperti perbincangan yang terlihat di dalam pertemanan facebook. Ini salah satu bukti bahwa hubungan intim antara Marga Simanjuntak dengan Boru Hotang terjalin dengan baik selama ini.
Jika ditilik dari Orang Batak itu sendiri maka Marga Simanjuntak akan memiliki dua ‘pariban’ di dalam kehidupannya yaitu ber-pariban langsung dengan sepupunya dan satu lagi ber-pariban langsung dengan Boru Hotang. Demikian juga halnya yang berlaku bagi Boru Hotang itu sendiri.
Jika Anda melihat dan memperhatikan begitu banyaknya Boru Hotang di dalam akun media sosial facebook dari seorang Marga Simanjuntak mungkin menjadi satu hal aneh bagi Anda yang berada di luar Suku Batak pada umumnya tetapi tidak untuk kultur internal Suku Batak karena hal seperti ini sudah ada terjadi sejak ratusan tahun yang lalu. Jadi jangan Anda heran jika lewat media sosial facebook akan terlihat jelas hubungan kedekatan yang intim di antara ke dua marga ini. Begitu pula sebaliknya dengan akun facebook Boru Hotang.
Unik dan luar biasa ke dua marga ini, bukan?
Lewat media sosial facebook dibuktikan bahwa hingga sekarang hubungan kekerabatan yang sangat dekat antara Marga Simanjuntak dengan Boru Hotang masih terjalin dengan sendirinya dan diharapkan hubungan kekerabatan yang sangat dekat ini akan terus dijalin kebersamaannya, mempererat tali persaudaraan tanpa membedakan kata apa, siapa, dan bagaimana karena semua hanya untuk kebersamaan dan memnumbuhkan rasa cinta terhadap budayanya.
Jika ada pertanyaan apakah fenomena hubungan per-pariban-an yang sangat dekat antara Marga Simanjuntak dan Boru Hotang ini patut dipertahankan maka jawaban ku adalah sangat patut untuk dipertahankan dan diteruskan di kemudian hari tetapi catatan merah ku pun menuliskan bahwa ini bukan merupakan tugas yang mudah!
2 hati selamanya!
Two hearts forever!
by me (~ds/ap-Tuesday-13sep11)
~*~*~*~*~
Catatan:
sak = berasal dari awalan kata ‘se’ dan di-slank-an menjadi kata ‘sak’ = satu
portibi = dunia
on = ini
Sak portibi on = se-dunia ini = satu dunia ini
Arti bebas dari kalimat pariban sak portibi on adalah dimana pun (di dunia mana pun) Marga Simanjuntak berada baik di dalam atau di luar negeri, serta bagaimana pun Marga Simanjuntak tersebut maka mereka akan tetap menjadi pariban saya.
Arti bebasnya adalah bagaimana pun dan sampai kapan pun Marga Simanjuntak akan terus menjadi pariban saya selama umur masih dikandung badan.




















Mantaf lah itu ito, napasti tung langa do partukkoan on saleleng di tinggalhon ito (dang adong gorgetan ni ito di milis on-red ). Ido apala tung hudok songoni. Mantaf ito.
Horas ma di hita saluhutna mardongan Mauliate
Horas Ito Diana,
Sebenarnya, kata luar biasa saya gunakan, karena memang pada jalur KEBIASAAN yang ada saat ini pada BORU BATAK, sudah sangat jarang saya temukan sebuah pemahaman dan penghayatan yang sangat mendalam seperti Ito.
Banyak yang saya temukan “Memahami” arti “MARGANYA”, tetapi tidak menghayatinya. Sebab, pemahaman dan penghayatan akan MARGA merupakan dua hal yang harusnya dilakukan secara bersamaan.
Mudah-mudahan semakin banyak boru Batak yang membaca tulisan Ito ini.
Salam,
Exsaudi R. Simanullang, SH
@> Ito Exsaudi
HORAS tu hamu, Ito hu Exsaudi…
Mauliate godang & 1 kehormatan yg sangat besar bisa menerima sanjungan yg luar biasa dari ito hu.
Luar biasa tidak ito, alai itu semua di dapat dari ILMU TURUNAN yg diberikan oleh Alm. Bapak-ku & juga Mama plus apa yg saya rasakan selama ini.
Memang kebetulan saya BORU HOTANG makanya mungkin jadi lebih terasa perbedaan kekerabatan tersebut, ito.
Ikut AMIN-kan dari harapan yang ito tuliskan yaa…
HORAS
peace & love
~ds/dianasihotang poenya website
@> Ito Jesron SIMAMORA
Bukan sedang penelitian ito Jesron tetapi kebetulan sedang terfikir untuk membuat artikel tersebut saja kok, ito hehehehehe…
Mauliate atas tanggapannya yaa, ito.
HORAS
peace & love
~ds/dianasihotang poenya website
songon na leleng dang tarjaha surat ni ito boru Hotang on, hape nalagi penelitian do haroa, tentang kekerabatan boru Hotang dohot Simanjuntak-sitolu sada ina.
hehehe..
Luar biasa Ito Diana……………………..
Tulisanmu Ito, melebihi penghayatan para Abang dan Amangtua saya marga Sihotang yang saya kenal…tetapi tidak terbatas pada Swandy Sihotang, Tommy Sihotang dan Sihotang yang lain-lain.
Pantas Boru Hotang sangat dihargai oleh marga Simanjuntak khususnya Mardaup, Sitombuk dan Hutabulu seperti yang Ito tulis….karena ternyata sejak dulu hingga sekarang Boru Hotang mampu menghayati perannya sebagai Boru di Marga Sihotang dan sebagai PARIBAN di Marga Simanjuntak.
Saya tidak menyangka kalau hingga saat ini masih ada penghayatan dan pemahaman yang dalam seperti ini yang saya temukan di generasi muda Boru Sihotang.
Saya berharap kedepan banyak boru hotang yang lain yang bisa menghayati arti marga yang melekat pada namanya sehingga semakin mampu menempatkan dirinya dalam tatanan adat dan juga memainkan perannya sebagaimana layaknya Boru Hotang yang sesungguhnya yang menyandang gelar “BORU NI RAJA I, RAJA SIHOTANG” dan kalau boleh saya menambahkan Boru Hotang juga BORU NI RAJA I, SIRAJA OLOAN.
Memang harus diakui sepertinya Boru Hotang lebih terkenal dibandingkan dengan Sihotang Ito sendiri he…he…he… (sory yah… mohon maaf untuk para Amangtua dan Abang saya Sihotang)..
Selamat berjuang Ito/Namboru….
Semangatmu mewariskan penghayatan akan arti BORU HOTANG untuk generasi baru Boru Sihotang sangat saya hargai..
Salam…..
Exsaudi R. Simanullang, SH